Smart Calculators

Smart

Calculators

Kalkulator BMI

Hitung Indeks Massa Tubuh (IMT) Anda secara instan. Dapatkan klasifikasi WHO, rentang berat badan sehat, dan rekomendasi yang dipersonalisasi.

Kalkulator BMI. Indeks massa tubuh dari berat dan tinggi badan.
Kalkulator BMI menghitung indeks massa tubuh dengan membagi berat badan Anda dengan kuadrat tinggi badan. Hasilnya diklasifikasikan ke dalam kategori kurus, normal, kelebihan berat badan, atau obesitas berdasarkan standar WHO.

Apa Itu Indeks Massa Tubuh (IMT/BMI)?

Indeks Massa Tubuh (IMT), atau Body Mass Index (BMI), adalah ukuran standar yang digunakan untuk menilai apakah berat badan seseorang proporsional terhadap tinggi badannya. IMT dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, menghasilkan angka dalam satuan kg/m² yang menunjukkan status gizi seseorang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggunakan IMT sebagai alat skrining utama untuk mengklasifikasikan berat badan ke dalam empat kategori: berat badan kurang (underweight) dengan IMT di bawah 18,5; normal antara 18,5–24,9; kelebihan berat badan (overweight) antara 25–29,9; dan obesitas dengan IMT 30 ke atas. Namun, untuk populasi Asia termasuk Indonesia, Kementerian Kesehatan RI menggunakan ambang batas yang lebih rendah: overweight dimulai dari IMT >25–27 dan obesitas dari IMT >27. Perbedaan ini penting karena orang Asia memiliki risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes yang lebih tinggi pada IMT yang lebih rendah dibandingkan populasi Barat.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 23,4% penduduk dewasa Indonesia mengalami obesitas, meningkat signifikan dari 10,5% pada tahun 2007. Angka ini menjadikan pemantauan IMT semakin penting sebagai langkah awal pencegahan penyakit kronis di Indonesia.

Cara Menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh)

Menghitung IMT sangat mudah dan hanya membutuhkan dua data: berat badan dalam kilogram dan tinggi badan dalam meter. Berikut langkah-langkahnya:
1. Ukur tinggi badan Anda dalam sentimeter, lalu konversi ke meter dengan membagi 100. Contoh: 165 cm menjadi 1,65 m.
2. Kuadratkan tinggi badan dalam meter. Contoh: 1,65 x 1,65 = 2,7225 m².
3. Bagi berat badan (kg) dengan hasil kuadrat tinggi badan (m²). Contoh: 68 kg ÷ 2,7225 m² = 24,98 kg/m².
4. Cocokkan hasilnya dengan tabel klasifikasi IMT untuk mengetahui status gizi Anda.
Penting untuk diingat bahwa hasil IMT perlu ditafsirkan menggunakan klasifikasi yang tepat. Untuk orang Indonesia dan Asia pada umumnya, gunakan klasifikasi Asia-Pasifik yang diadopsi Kemenkes RI: normal 18,5–22,9; overweight (berisiko) 23–24,9; obesitas I 25–29,9; dan obesitas II ≥30. Klasifikasi ini memiliki ambang batas lebih rendah karena studi menunjukkan bahwa populasi Asia sudah menghadapi risiko kesehatan yang meningkat pada IMT di atas 23 kg/m².
Kalkulator IMT di atas melakukan seluruh perhitungan ini secara otomatis. Cukup masukkan berat dan tinggi badan Anda, dan hasilnya akan langsung ditampilkan beserta klasifikasi WHO serta rentang berat badan ideal Anda.

Rumus IMT (Indeks Massa Tubuh)

IMT=BBTB2IMT = \frac{BB}{TB^2}
  • IMTIMT = Indeks Massa Tubuh, dalam satuan kg/m²
  • BBBB = Berat badan dalam kilogram (kg)
  • TBTB = Tinggi badan dalam meter (m)
Rumus IMT sangat sederhana: berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m) yang dikuadratkan. Misalnya, seseorang dengan berat 70 kg dan tinggi 1,70 m memiliki IMT = 70 ÷ (1,70 × 1,70) = 70 ÷ 2,89 = 24,22 kg/m².
Selain rumus IMT, ada juga rumus Broca yang populer di Indonesia untuk menghitung berat badan ideal secara langsung:
BBideal=(TBcm100)(TBcm100)×10%BB_{ideal} = (TB_{cm} - 100) - (TB_{cm} - 100) \times 10\%
Contoh: untuk tinggi 165 cm, berat ideal = (165 - 100) - (65 × 10%) = 65 - 6,5 = 58,5 kg. Rumus Broca ini hanya memberikan satu angka ideal, sedangkan IMT memberikan rentang berat badan sehat yang lebih fleksibel.
Untuk menentukan rentang berat badan ideal berdasarkan IMT, gunakan rumus terbalik: berat ideal minimum = 18,5 × TB² dan berat ideal maksimum = 24,9 × TB². Untuk seseorang dengan tinggi 1,65 m: berat minimum = 18,5 × 2,7225 = 50,4 kg dan berat maksimum = 24,9 × 2,7225 = 67,8 kg.

Contoh Perhitungan IMT

Wanita dengan Tinggi 160 cm dan Berat 55 kg

Seorang wanita berusia 28 tahun memiliki tinggi badan 160 cm (1,60 m) dan berat badan 55 kg. Perhitungan IMT-nya: 55 ÷ (1,60 × 1,60) = 55 ÷ 2,56 = 21,48 kg/m². Menurut klasifikasi WHO maupun Asia-Pasifik, IMT 21,48 termasuk kategori normal. Rentang berat badan ideal untuk tinggi 160 cm adalah 47,4–63,9 kg (berdasarkan IMT 18,5–24,9). Artinya, ia masih memiliki ruang sekitar 8,9 kg sebelum memasuki kategori overweight.

Pria dengan Tinggi 170 cm dan Berat 82 kg

Seorang pria berusia 35 tahun memiliki tinggi badan 170 cm (1,70 m) dan berat badan 82 kg. Perhitungan IMT-nya: 82 ÷ (1,70 × 1,70) = 82 ÷ 2,89 = 28,37 kg/m². Menurut klasifikasi WHO, IMT 28,37 termasuk overweight (25–29,9). Namun menurut klasifikasi Kemenkes/Asia-Pasifik, IMT ini sudah masuk kategori obesitas I (25–29,9). Rentang berat badan ideal untuk tinggi 170 cm adalah 53,5–72,0 kg. Pria ini perlu menurunkan sekitar 10 kg untuk mencapai batas atas berat badan ideal.

Remaja dengan Tinggi 155 cm dan Berat 40 kg

Seorang remaja putri berusia 16 tahun memiliki tinggi badan 155 cm (1,55 m) dan berat badan 40 kg. Perhitungan IMT-nya: 40 ÷ (1,55 × 1,55) = 40 ÷ 2,4025 = 16,65 kg/m². IMT di bawah 18,5 menunjukkan berat badan kurang (underweight). Untuk mencapai batas bawah normal (IMT 18,5), ia perlu menambah berat badan menjadi minimal 44,4 kg, artinya perlu kenaikan sekitar 4,4 kg. Catatan penting: untuk anak dan remaja di bawah 18 tahun, interpretasi IMT sebaiknya menggunakan persentil berdasarkan usia dan jenis kelamin, karena komposisi tubuh berubah seiring pertumbuhan.

Tips Menjaga Berat Badan Ideal Berdasarkan IMT

  • Pantau IMT secara berkala, minimal sebulan sekali. Perubahan berat badan secara bertahap sering tidak disadari, dan pemantauan rutin membantu Anda mengambil tindakan lebih awal sebelum masuk kategori overweight atau obesitas.
  • Gunakan klasifikasi Asia-Pasifik, bukan standar WHO internasional, sebagai acuan. Orang Indonesia dan Asia memiliki risiko penyakit metabolik yang lebih tinggi pada IMT yang lebih rendah. IMT 23 sudah dianggap berisiko untuk populasi Asia.
  • Jangan hanya mengandalkan IMT. Kombinasikan dengan pengukuran lingkar pinggang untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap. Lingkar pinggang di atas 90 cm (pria) atau 80 cm (wanita) menunjukkan risiko kesehatan yang meningkat, meskipun IMT masih normal.
  • Targetkan penurunan berat badan bertahap sebesar 0,5–1 kg per minggu jika IMT Anda di atas normal. Penurunan drastis justru tidak sehat dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
  • Perbanyak konsumsi makanan tinggi serat dan protein seperti tempe, tahu, ikan, sayuran, dan buah-buahan lokal. Makanan ini memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu mengendalikan asupan kalori secara alami.
  • Lakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu sesuai rekomendasi WHO. Olahraga ringan seperti jalan kaki 30 menit sehari, bersepeda, atau berenang sudah cukup efektif untuk menjaga berat badan ideal.
  • Jangan melewatkan sarapan. Studi menunjukkan bahwa orang yang rutin sarapan dengan menu bergizi seimbang cenderung memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan mereka yang melewatkannya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang IMT

Berapa IMT normal untuk orang Indonesia?

IMT normal untuk orang Indonesia berdasarkan klasifikasi Asia-Pasifik yang diadopsi Kemenkes RI adalah 18,5–22,9 kg/m². Angka ini lebih rendah dibandingkan standar WHO internasional yang menetapkan normal hingga 24,9 kg/m². Perbedaan ini karena riset menunjukkan bahwa populasi Asia, termasuk Indonesia, sudah memiliki risiko tinggi penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2 pada IMT di atas 23 kg/m².

Apa perbedaan klasifikasi IMT WHO dan Kemenkes Indonesia?

Perbedaan utamanya terletak pada ambang batas overweight dan obesitas. WHO internasional menetapkan overweight pada IMT 25–29,9 dan obesitas pada IMT ≥30. Sementara itu, klasifikasi Kemenkes/Asia-Pasifik menetapkan overweight pada IMT 23–24,9, obesitas I pada IMT 25–29,9, dan obesitas II pada IMT ≥30. Klasifikasi Asia-Pasifik memiliki sensitivitas skrining yang lebih baik (95,4% vs 35,9%) untuk memprediksi risiko hipertensi pada populasi Indonesia.

Berapa berat badan ideal untuk tinggi 160 cm?

Untuk tinggi badan 160 cm, rentang berat badan ideal berdasarkan IMT normal (18,5–24,9) adalah 47,4 kg hingga 63,9 kg. Menggunakan rumus Broca, berat ideal untuk wanita sekitar 54 kg dan untuk pria sekitar 51 kg. Jika menggunakan standar Asia-Pasifik yang lebih ketat (IMT 18,5–22,9), rentangnya menjadi 47,4 kg hingga 58,6 kg.

Berapa berat badan ideal untuk tinggi 170 cm?

Untuk tinggi badan 170 cm, rentang berat badan ideal berdasarkan IMT normal WHO (18,5–24,9) adalah 53,5 kg hingga 72,0 kg. Menggunakan standar Asia-Pasifik (IMT 18,5–22,9), rentangnya menjadi 53,5 kg hingga 66,2 kg. Rumus Broca memberikan berat ideal sekitar 63 kg untuk pria dan 59,5 kg untuk wanita.

Apakah IMT akurat untuk semua orang?

Tidak, IMT memiliki beberapa keterbatasan. IMT tidak membedakan antara massa otot dan lemak tubuh, sehingga atlet berotot bisa memiliki IMT tinggi meski lemak tubuhnya rendah. IMT juga kurang akurat untuk ibu hamil, lansia di atas 65 tahun (yang cenderung kehilangan massa otot), anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun (yang harus menggunakan persentil berdasarkan usia), serta orang dengan edema atau kondisi medis tertentu. Meskipun demikian, IMT tetap menjadi alat skrining awal yang paling praktis dan banyak digunakan secara global.

Bagaimana cara menghitung IMT tanpa kalkulator?

Cara menghitung IMT secara manual: (1) Ubah tinggi badan dari cm ke meter, misalnya 165 cm = 1,65 m. (2) Kuadratkan tinggi badan: 1,65 × 1,65 = 2,7225. (3) Bagi berat badan dengan hasilnya: misalnya 60 kg ÷ 2,7225 = 22,04 kg/m². Hasilnya kemudian dicocokkan dengan tabel klasifikasi: di bawah 18,5 = kurus, 18,5–24,9 = normal, 25–29,9 = overweight, 30 ke atas = obesitas.

Mengapa orang Asia menggunakan standar IMT yang berbeda?

Orang Asia, termasuk Indonesia, menggunakan ambang batas IMT yang lebih rendah karena pada IMT yang sama, orang Asia cenderung memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan orang Kaukasia. Studi menunjukkan bahwa risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung pada populasi Asia sudah meningkat signifikan pada IMT 23 kg/m², jauh di bawah ambang WHO internasional (25 kg/m²). Oleh karena itu, WHO Western Pacific Region menetapkan klasifikasi khusus Asia-Pasifik pada tahun 2000.

Apakah IMT bisa digunakan untuk anak-anak?

IMT untuk anak-anak dan remaja (usia 2–19 tahun) dihitung dengan rumus yang sama, tetapi interpretasinya berbeda. Hasilnya tidak langsung dibandingkan dengan angka absolut seperti pada dewasa, melainkan dikonversi ke persentil berdasarkan usia dan jenis kelamin menggunakan grafik pertumbuhan CDC atau WHO. Anak dengan IMT di bawah persentil ke-5 dianggap underweight, persentil 5–84 normal, persentil 85–94 overweight, dan persentil 95 ke atas obesitas.


Istilah Penting Terkait IMT

IMT (Indeks Massa Tubuh)

Ukuran standar yang menghitung rasio berat badan terhadap kuadrat tinggi badan (kg/m²) untuk menilai status gizi seseorang. Dikenal juga sebagai BMI (Body Mass Index).

Underweight (Berat Badan Kurang)

Kondisi ketika IMT berada di bawah 18,5 kg/m², yang mengindikasikan kurangnya asupan nutrisi dan dapat meningkatkan risiko gangguan imun serta osteoporosis.

Overweight (Kelebihan Berat Badan)

Kondisi ketika IMT berada di atas normal namun belum mencapai ambang obesitas. Menurut standar Asia-Pasifik, overweight dimulai pada IMT 23 kg/m².

Obesitas

Kondisi kelebihan berat badan yang signifikan dengan IMT di atas 27 kg/m² (standar Kemenkes) atau di atas 30 kg/m² (standar WHO internasional), yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi.

Rumus Broca

Metode alternatif untuk menghitung berat badan ideal berdasarkan tinggi badan: (tinggi cm - 100) dikurangi 10% untuk wanita atau 15% untuk pria. Lebih sederhana dari IMT namun kurang fleksibel.

Klasifikasi Asia-Pasifik

Standar klasifikasi IMT yang ditetapkan WHO Western Pacific Region untuk populasi Asia, dengan ambang batas lebih rendah (overweight ≥23, obesitas ≥25) karena risiko metabolik yang lebih tinggi pada IMT rendah.

Lingkar Pinggang

Pengukuran keliling pinggang yang digunakan sebagai pelengkap IMT untuk menilai risiko kesehatan. Nilai di atas 90 cm (pria) atau 80 cm (wanita) menunjukkan obesitas sentral dengan risiko metabolik tinggi.